Rabu, 14 Januari 2015

PERIHAL BUNGA MAWAR



Judul: Perihal Bunga Mawar
Oleh: Sitie CB

“Bunga mawar? Dari Edoe?” jawab Lailla penuh tanya, ketika Tika menanyakan perihal bunga mawar yang sering dibeli Edoe. “Sumpah, aku gak pernah menerima bunga mawar dari Edoe Tik!” lanjutnya.

“Jangan-jangan ….” Berbagai pikiran negative menjejali kepala perempuan berperawakan langsing itu.

Bergegas ia ke rumah Edoe, laki-laki yang memutuskan untuk menunda lamarannya dua bulan lagi tanpa penjelasan apapun.
Beberapa kali mengucap salam, namun tak ada sahutan. Handphone Edoe pun tidak aktif.
Akhirnya, Lailla pulang dengan perasaan kesal. 

**
“La, maafkan aku. Selama seminggu ini tak memberimu kabar,” ucap Edoe saat berkunjung ke rumahnya.

Namun Lailla hanya diam.
Maaf-maaf, gak semudah itu, Doe! Batinnya jengkel. 

“Iya, aku memang salah. Tapi ada alasan dibalik semua itu, La!”

“Alasan apa? Mengunjungi pacar barumu dengan sering membelikan bunga mawar, hah!” serunya.

“Kamu tahu dari mana? Semua itu salah paham, La. Rose itu …” 

“Oh, jadi namanya Rose!” potong Lailla dengan nada sinis sembari berlalu dari hadapan Edoe, laki-laki yang selama seminggu ini menghilang begitu saja.

*
Hati Lailla didera kesedihan. Ia merasa Edoe telah menghianatinya di belakang.

“La, tak seharusnya kamu marah seperti itu! Memangnya kamu sudah tahu, Rose itu siapa?” tanya Tika, sahabat yang selalu jadi tempat curhat Lailla.

Ia menggelengkan kepala.

“La, sebaiknya kamu minta maaf sama Edoe! Sekalian meminta penjelasan tentang Rose, perempuan yang telah berhasil merebut perhatian Edoe darimu!” usul Tika. 

Lailla hanya diam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.
Kamu benar, Tik. Harusnya aku tak seemosi kemarin. Harusnya aku mendengarkan penjelasan Edoe tentang perempuan bernama Rose itu! Batin Lailla penuh sesal.
Sebab, ia tak mau kehilangan Edoe.

“Aku terlalu egois!” lirihnya.

**
Dengan yakin, Lailla melangkah menuju rumah Edoe. Meminta maaf adalah tujuannya untuk memperbaiki hubungan yang sudah empat bulan terjalin.

“Mas Edoenya baru saja keluar, Mbak. Mungkin belum jauh dari sini,” jawab pembantu Edoe, saat Lailla menanyakan keberadaan kekasihnya.

Bergegas, ia menaiki taksi untuk menyusul laki-laki yang dicintainya.

“Edoe!” serunya ketika melihat mobil yang ia kenal terparkir di depan toko bunga. 

“Dia membeli bunga mawar lagi? Benar-benar gak bisa dimaafkan!” Dihelanya napas panjang, “sabar-sabar, lebih baik aku menyelidikinya terlebih dulu,” lirihnya sembari mengelus dada.
Ia menginstrusikan Pak Sopir untuk membuntuti mobil Edoe. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.

“Pelan-pelan saja ya, Pak. Supaya tidak dicurigai.”

“Baik, Mbak.” 

*
“Ru-mah ma-sa de-pan?” lirihnya, begitu mobil Edoe memasuki gapura. 

Lailla memilih berjalan kaki untuk masuk ke dalam. Terlihat orang-orang ramai berlalu lalang sembari membawa keranjang berisi bunga.
Ia berlari menyusul Edoe, dan ingin sekali berhambur memeluk kekasihnya.

“Edoe,” sapa Lailla pelan, ketika mendapati orang yang diikutinya baru saja selesai membaca doa.

 “Lailla! Kok kamu bisa di sini?” tanya Edoe sedikit kaget atas kehadirannya.

“Maafkan aku, Doe. Aku sudah berburuk sangka padamu.” Hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan. Lalu ia bersimpuh dan mengusap batu nisan bertuliskan wafatnya Rose binti Ahmad seminggu yang lalu. Inikah alasan Edoe?

 “Tak sepenuhnya salah kamu, La. Maafkan aku juga karena tidak pernah cerita tentang Rose, adikku yang meninggal dari seminggu yang lalu. Ia kecelakaan, ketika sedang menyeberang jalan untuk membeli bunga mawar ….” Kalimatnya terhenti, seolah berat untuk melanjutkan sesuatu.

“Dan kamu tahu? Bunga mawar itu kesukaan Rose, La. Ia ingin sekali seperti bunga mawar yang berduri!”
Edoe tak bisa membendung air matanya, begitu pun Lailla.
 
Bunga mawar yang berduri? Batinnya. Lalu ia tersenyum, ada kesejukan yang masuk ke hatinya, perihal bunga mawar.

Jakarta, 11 Januari 2015

Selasa, 06 Januari 2015

ISTANA UNTUKMU VERSI 2



Istana Untukmu
Oleh: Sitie CB

Selembar kantuk menyapa, menundukkan kelopak mata yang sedari tadi belum sempat terpejam.
Namun rasa kantuk itu hilang seketika, saat kumendengar buliran bening berhamburan dari langit. Rinai turun diikuti angin kencang, membuatku semakin tak tenang.

Semakin malam, hujan bertambah deras. Kurasakan tetesan-tetesan air mengenai bahuku. Buru-buru kuambil ember dan baskom untuk menadahi air yang menetes dari genteng bocor.
Ternyata bukan hanya kamar, tapi ruang dapur juga bocor di sana-sini. Terpaksa, malam ini kurela untuk begadang.

“Mak, hujan semakin deras. Terus kita tidur dimana?” tanyaku pada emak.

Sebab, dipan yang biasa untuk merebahkan badan basah, terkena tempiasan air hujan. Maklum, rumah yang kami tinggali masih beranyamkan bambu.

“Ya sudah, kita tidur di ruang depan saja, Nak,” ajaknya.
Aku pun mempersiapkan alas tidur, bantal juga selimut.

“Oh ya, Bapak kok belum pulang, Mak? Padahal hari sudah malam,” tanyaku pada wanita berperawakan kecil.

“Mungkin masih nonton bola di rumahnya Paman Yan.”

Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, tapi belum ada tanda-tanda hujan akan reda, malah kini disertai petir yang terus menggelegar seakan ingin mencari sasaran.

Rasa takut berkecamuk di dada, disertai tubuh menggigil disebabkan angin yang masuk lewat celah-celah dinding. Kutatap lekat-lekat wajah emak, garis-garis di keningnya menyadarkanku akan usia yang kini telah menua, dan kutemukan seberkas cahaya kesabaran dalam menghadapi hidup ini.

“Mak, maafkan Ria!” rasa bersalah terus menghantuiku.

**
Paginya, kudapati lantai dapur dan kamar yang masih beralaskan tanah terlihat becek. Ternyata air dari selokan belakang rumah meluap, dan masuk ke dalam. Dengan sigap, aku dan emak mencari papan kayu untuk ditaruh di tanah yang basah, supaya jika berjalan, kaki tidak belepotan.

“Mak, Bapak kok belum pulang juga ya?” Aku semakin khawatir.

“Mungkin bapak lebih nyaman tinggal di sana.” Jawaban emak bagai palu yang mengenai dada, sakit.

 Kuniatkan untuk menyusul bapak, berharap laki-laki yang kini menginjak kepala tujuh mau pulang ke istana sederhana ini.
Langkah kaki terasa berat kala menginjak teras rumah berbentuk minimalis, ragu, lalu dengan hati-hati kuucap salam. Paman menyambutku dengan hangat, sehangat mentari yang mengintip dari celah pohon melinjo.

“Bapakmu demam, Nduk. Dari semalam menggigil dan batuk-batuk!” Aku tercengang mendengar perkataan dari adik bapakku.

“Bapak!”

Aku berlari menghampiri laki-laki yang rambutnya sudah dipenuhi uban.
Degup kencang di dada tak mau berhenti, aku tak kuasa melihat tubuh bapak yang masih tertidur pulas diiringi dengkuran halus. Rasa bersalah semakin menjadi, membuatku ingin berlari dan berteriak.

“Bapak, maaafkan Ria!” Namun kuurungkan.
Dalam hati yang terdalam, kusematkan dedoa juga niat untuk membahagiakan bapak dan emak.

*
“Nduk, kok awakmu nang kene?[1]” tanya bapak.

Kudekati bapak, lalu kucium tangan keriputnya.

“Ria sengaja menyusul ke sini, aku dan Emak khawatir terjadi apa-apa dengan Bapak,” jawabku sembari menyodorkan kopi hitam kesukaan bapak, “kata paman semalam Bapak demam ya? Nanti Ria bawakan obat dan mengajak Emak untuk mijitin Bapak,” lanjutku, karena aku tahu bapak hanya mau dipijit sama emak.

“Bapak baik-baik saja, Nduk. Kamu dan Emak ndak usah khawatir.”

Aku pamit ke belakang sebelum tanggul pertahanan di mataku jebol. Dada ini terasa sesak.
Kuhela napas panjang, berharap lebih tenang. Tapi salah, tangisku kian pecah. Dan kini keputusanku sudah bulat, merantau adalah jalan satu-satunya agar aku bisa bisa menghasilkan uang untuk membenahi rumah yang sudah mulai rapuh.

“Untuk sementara, biar bapakmu tinggal di sini dulu, Nduk.” Suara paman mengagetkanku, buru-buru kuseka airmata yang terus berhamburan.

Aku tak mampu menjawab, hanya anggukan kepala yang bisa kulakukan. Mungkin itu lebih baik, karena jika tinggal di rumah, keadaan bapak pasti bertambah parah.

***
Aku anak bungsu dari lima bersaudara, hidup dalam naungan kesederhanaan, dan harmonis. Meskipun rumah yang kami tinggali lebih tepat disebut gubuk, tapi tak masalah. Yang terpenting adalah kebersamaan, ketentraman.
Hingga tahun berganti tahun, satu per satu kakakku meninggalkan rumah untuk membina hidup baru. Kini tinggalah kami bertiga.


“Mak, emangnya Bapak ndak mau rumah ini direnovasi? Biar kayak rumah Paman,” tanyaku di sela-sela mencabut ubannya.

“Belum ada dananya, Nduk. Bapak juga ndak kepikiran ke situ.”

“Kenapa gak minta bantuan sama Mas Adi, Mas Aris, Mas Yanto, dan Mas Bayu, Mak? Mereka kan sekarang kerjanya sudah mapan, apalagi Mas Yanto, dia punya banyak karyawan!”

Aku bertanya demikian karena tak tahan mendengar gunjingan tetangga sebelah.
“Pak Ahmad punya anak banyak kok rumahnya masih kayak gubuk. Memangnya gak ada yang mau membantu merenovasi?”

Hati ini sakit, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, bisanya hanya menyusahkan emak dan bapak.

“Ndak usah. Bapak ndak mau merepotkan mereka. Biar kakakmu hidup tenang dengan keluarga kecilnya,” jawabnya.

Ah, emak, bapak. Aku terharu.
Namun apalah artinya aku jika hanya berdiam diri, bahkan gunjingan semakin terdengar santer, membuat hatiku panas. Aku pun tak ingin gunjingan para tetangga itu membebani pikiran mereka.

*
“Emak, Ria ingin merantau,” ucapku hati-hati, takut mengganggu kesenangannya.

Wanita yang kupanggil emak itu berhenti mengunyah kinang.

"Ria berjanji sepulang merantau akan membuat rumah kita lebih nyaman."

Terlihat telaga jernih di pelupuk mata wanita yang telah melahirkanku “Ndak usah merantau, Nduk. Nanti yang nemenim Emak dan Bapak siapa?”

“Emak?” Kupeluk tubuhnya yang ringkih, tangis kami pecah begitu saja. Haru biru menghiasi senja di akhir tahun.

*
Aku mondar-mandir tak jelas. Bingung.
Merantau yang kukira jalan terbaik, kini pupus, tergantikan kebingungan untuk berpikir lebih keras lagi, apa yang harus kulakukan?

Aha …, tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala.

“Kamu kenapa, Nduk? Dari tadi mondar-mandir kaya setrikaan,” tanya bapak yang sedang menghisap lintingan tembakau.

“Hmm …” Aku ragu, “ oh ya, minggu depan kita main ke rumah Mas Bayu yuk, Pak. Aku kangen. Sabtu depan kan juga waktunya Mbak Endang melahirkan,” usulku.

“Oh iya, bapak sampai lali. Ya wis, besok kabari Mas Adi suruh ke sini, biar berangkatnya sama-sama.”

Yes!
Buru-buru kuberi tahu semua kakakku, untuk meminta bantuannya.

*
“Pak, Ria gak jadi ikut ya.”

“Lho, kenapa? Kemarin kamu yang ngusulin ke sana!”

“Iya. Tapi Ria mau nungguin rumah, nanti kalau hujan dan air masuk ke dalam, dan gak ada yang tahu, kan bahaya!” Sebisa mungkin kuberi alasan yang masuk akal.

Emak dan Mas Adi pun membenarkan alasanku.

“Sukses selalu ya, De. Nanti Mas Aris dan Mas Yanto ke sini, sekalian membawa timnya,” bisik Mas Adi sebelum mengemudikan mobilnya.

“Ok, jaga Emak dan Bapak selama di Jogja ya, buat mereka kerasan tinggal di sana,” balasku.

*
Rencana yang telah tersusun selama seminggu kini mulai dijalani.  Satu per satu kakakku datang, Mas Yanto membawa tim yang sudah dijanjikannya. Mereka mengangkut berbagai bahan bangunan. Dengan dibantu para tetangga yang peduli dengan rumah kami, tak beberapa lama bangunan yang diimpikan Emak dan Bapak akhirnya selesai juga.

“Bagaimana, Ri?” tanya Mas Adi.

Kuacungi jempol. Biarpun tak sebagus rumah paman, yang penting bisa untuk berteduh dan nyaman ditinggali.

*
Kedatangan orang yang kusayangi disambut dengan penuh suka cita oleh para warga. Aku tersenyum haru.
Baru saja turun dari mobil, emak dan bapak tercengang, kaget.

“Iki umaeh sopo, Nduk. Kok apik tenan?[2]” tanya bapak penasaran.

“Coba Bapak baca alamat rumahnya,” timpal Emak.

Dengan mimik tak percaya, bapak memelukku. Tangis haru yang mungkin mewakili beribu pertanyaan.

Jakarta, 5 Januari 2015
======================selesai========================
Keterangan:

[1] “Nak, kok kamu di sini?”
[2] ‘Ini rumah siapa, Nak. Kok bagus banget?”

Sabtu, 03 Januari 2015

ISTANA UNTUKMU

Istana Untukmu
Oleh: Sitie CB

Selembar kantuk menyapa, menundukkan kelopak mata yang sedari tadi belum sempat terpejam.
Namun rasa kantuk itu hilang seketika, saat kumendengar buliran bening berhamburan dari langit. Rinai turun diikuti angin kencang, membuatku semakin tak tenang.

Semakin malam, hujan bertambah deras. Kurasakan tetesan-tetesan air mengenai bahuku. Buru-buru kuambil ember dan baskom untuk menadahi air yang menetes dari genteng bocor.
Ternyata bukan hanya kamar, tapi ruang dapur juga bocor di sana-sini. Terpaksa, malam ini kurela untuk begadang.

“Mak, hujan semakin deras. Terus kita tidur dimana?” tanyaku pada emak.

Sebab, dipan yang biasa untuk merebahkan badan basah, terkena tempiasan air hujan. Maklum, rumah yang kami tinggali masih beranyamkan bambu.

“Ya sudah, kita tidur di ruang depan saja, Nak,” ajaknya.

Aku pun mempersiapkan alas tidur, bantal juga selimut.

“Oh ya, Bapak kok belum pulang, Mak? Padahal hari sudah malam,” tanyaku pada wanita berperawakan kecil.

“Mungkin masih di tempat Paman Yan.”

Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam, tapi belum ada tanda-tanda hujan akan reda, malah kini disertai petir yang terus menggelegar seakan ingin mencari sasaran.

Rasa takut berkecamuk di dada, disertai tubuh menggigil disebabkan angin yang masuk lewat celah-celah dinding. Kutatap lekat-lekat wajah emak, garis-garis di keningnya menyadarkanku akan usia yang kini telah menua, dan kutemukan seberkas cahaya kesabaran dalam menghadapi hidup ini.

“Mak, maafkan Ria!” rasa bersalah terus menghantuiku.

**
Paginya, kudapati lantai dapur dan kamar yang masih beralaskan tanah terlihat becek. Ternyata air dari selokan belakang rumah meluap, dan masuk ke dalam. Dengan sigap, aku dan emak mencari papan kayu untuk ditaruh di tanah yang basah, supaya jika berjalan, kaki tidak belepotan.

“Mak, Bapak kok belum pulang juga ya?” Aku semakin khawatir.

“Mungkin bapak lebih nyaman tinggal di sana.” Jawaban emak bagai palu yang mengenai dada, sakit. Kuniatkan untuk menyusul bapak, berharap laki-laki yang kini menginjak kepala tujuh mau pulang ke istana sederhana ini.

Langkah kaki terasa berat kala menginjak teras rumah berbentuk minimalis, ragu, lalu dengan hati-hati kuucap salam. Paman Yan menyambutku dengan hangat, sehangat mentari yang mengintip dari celah pohon melinjo.

“Bapakmu ndak mau pulang, Nduk!” Aku tercengang mendengar perkataan dari adik bapakku.

“Memangnya kenapa, Paman?”

“Takoni dewek, apa karepe Bapakmu![1]” jawabnya.

Degup kencang di dada tak mau berhenti, aku tak kuasa melihat tubuh bapak yang masih tertidur pulas diiringi dengkuran halus. Rasa bersalah semakin menjadi, membuatku ingin berlari dan berteriak.

“Bapak, maaafkan Ria!” Namun kuurungkan.

Dalam hati yang terdalam, kusematkan dedoa juga niat untuk membahagiakan bapak dan emak.

*
“Nduk, kok awakmu nang kene?[2]” tanya bapak.

Kudekati bapak, lalu kucium tangan keriputnya.

“Ria sengaja menyusul ke sini, aku dan Emak khawatir terjadi apa-apa dengan Bapak,” jawabku sembari menyodorkan kopi hitam kesukaan bapak.

“Bapak baik-baik saja, Nduk. Di sini aman, bapak kerasan tinggal di rumah pamanmu.”

Aku pamit ke belakang sebelum tanggul pertahanan di mataku jebol. Dada ini terasa sesak.
Kuhela napas panjang, berharap lebih tenang. Tapi salah, tangisku kian pecah. Dan kini keputusanku sudah bulat, merantau adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkan cita-cita bapak membangun istana baru.

***
Aku anak bungsu dari lima bersaudara, hidup dalam naungan kesederhanaan, dan harmonis. Meskipun rumah yang kami tinggali lebih tepat disebut gubuk, tapi tak masalah. Yang terpenting adalah kebersamaan, ketentraman.

Hingga tahun berganti tahun, satu per satu kakakku meninggalkan rumah untuk membina hidup baru. Kini tinggalah kami bertiga.

Bapak lebih sering ke sawah, pulang-pulang membawa bongkahan batu yang diambilnya dari sungai, ia lakukan setiap hari. Hingga terkumpul banyak.

“Batu itu untuk apa, Pak?” tanyaku.

“Buat mbangun rumah,” jawabnya sembari tersenyum.

“Kenapa gak minta bantuan sama Mas Adi, Mas Aris, Mas Yanto, dan Mas Bayu, Pak?”
Aku bertanya demikian karena tak tahan mendengar gunjingan tetangga sebelah.

“Pak Ahmad punya anak banyak kok rumahnya masih kayak gubuk. Memangnya gak ada yang mau membantu merenovasi?”

Hati ini sakit, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, bisanya hanya menyusahkan emak dan bapak.

“Ndak usah. Biar mereka hidup tenang dengan keluarga kecilnya.” Bapak berlalu dari hadapanku.

Ah, bapak. Aku terharu.
Namun apalah artinya aku jika hanya berdiam diri, bahkan gunjingan semakin terdengar santer, membuat hatiku panas. Aku pun tak tega melihat bapak tergopoh-gopoh memanggul bongkahan batu yang begitu berat.

*
“Emak, izinkan Ria merantau.” Kupeluk tubuhnya yang semakin ringkih.

“Ria berjanji akan pulang membawa sebongkah rezeki untuk membangun istana kita, Mak.”

Wanita di hadapanku tak menjawab apa-apa. Terlihat telaga jernih di pelupuk mata, lalu ia memelukku erat.

“Emak doakan semoga kamu sehat selalu, Nak.” Tangisnya pecah.

Rasanya tak tega meninggalkan orangtua yang sudah renta, namun demi satu tujuan, cinta yang tersemat indah untuknya. Dan kini, saatnya aku membahagiakan mereka.

Tertatih hati, menjemput cita dengan sepenuh jiwa.
Permata indah bergulir tiada henti saat kucium punggung tangan keriputnya.
Seketika, langkahku gontai. Berat!

Hasrat berbalik, memeluknya erat. Tapi…
Ah, tetap saja kuayunkan langkah ini tiada henti
Kubiarkan bulir-bulir bening berjatuhan, seiring jalan setapak yang kulalui.
Tegar!

Harus, seperti petuahnya saat hidung ini menyentuh punggung tangannya.

“Sing sabar, Nduk. Kerja karo wong liya kudu gede atine.”[3]
Seketika hatiku luruh, berbalut getaran penggugah kesadaran.
Kutatap dua bola mata sayu, namun tak balik menatap.
Genangan tampak tertahan, kualihkan pandangan
Berat!
Tuk berpisah darinya

Jakarta, 3 Januari 2015
======================selesai========================
Keterangan:
[1] “Tanyakan sendiri, apa maunya bapakmu!”
[2] “Nak, kok kamu di sini?”
[3] “Yang sabar, Nak. Kerja sama orang lain harus besar hatinya.”

Minggu, 28 Desember 2014

Liarmu Penolongku



Liarmu Penolongku
Oleh: Sitie CB

“Bang, pokoknya aku gak setuju, kalau tanah itu harus dijual!” seruku pada Bang Maman.

“Dari mana kamu tahu rencana itu, Ra?” 

“Semalam, tak sengaja aku mendengar percakapan Abang dengan Pak RT.” Aku tertunduk, merasa bersalah.

“Tapi ini demi kesembuhan Ibu, Ra?” jawabnya tetap pada pendirian.

“Bang! Itu tanah peninggalan Bapak satu-satunya. Kalau dijual, nanti kita tak punya tanah lagi!” nadaku semakin tinggi. Masih dalam keadaan jengkel, aku  pun menuju kamar ibu.
Kudapati tubuh kurusnya masih berbalut selimut, diiringi dengkuran halus. Kutatap wajahnya lekat-lekat, garis-garis keriput menghiasi keningnya.

Sepeninggal bapak, ibu jadi sering sakit-sakitan. Batuk yang dideritanya tak jua sembuh. Meskipun sudah dibawa ke puskesmas dan meminum semua jenis obat batuk, tapi hasilnya nihil! Hingga akhirnya abang putus asa dan akan menjual tanah itu untuk berobat ibu ke kota.

“Bu, Ratih berjanji, akan melakukan apapun demi kesembuhan ibu,” bisikku.
Dan aku takkan membiarkan Bang Maman menjual tanah itu, batinku yakin.
*
“Memangnya Abang sudah gak punya simpanan lagi untuk berobat Ibu?” tanyaku setelah keadaan mulai tenang.
Ia hanya diam, pandangannya terus mengarah ke pekarangan di samping rumah.

“Sebenarnya abang sudah gak kerja lagi, Ra. Perusahaan telah mem-PHK abang dari sebulan yang lalu,” jawabnya sendu.

“Kenapa Abang gak bilang sama aku?”
***
Hari ini juga kuniatkan untuk mencari kerja, apapun pekerjaannya, asalkan halal aku terima. Tapi di luar dugaan, ternyata mencari kerja itu tak mudah. Dalam terombang-ambingnya diri yang tak jelas tujuannya, aku bersender di bangku taman, menikmati sang mega bersama teman-teman.
Pandanganku tertuju pada penjual koran yang sedang menjajakkan dagangannya di pinggir jalan, aku pun menghampirinya.

“Bang, koran yang memuat lowongan kerja ada gak?” tanyaku pada pemuda beranting satu.

“Ada, Mbak. Ini,” jawabnya sembari menyodorkan koran yang aku minta.

Kucari-cari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan terakhirku, tapi tak ada. Rata-rata minimal harus lulusan SMA/sederajat. Sedangkan aku hanya lulusan SMP.

Huf!
Rasanya lemas sekali.

Dalam keterputusasaan, aku melihat artikel dengan judul ‘OBAT HERBAL TRADISIONAL’. Buru-buru kubaca.

Meniran (Phylanthus urinaria, Linn) merupakan tumbuhan liar yang banyak tumbuh di tempat lembab pada dataran rendah daerah tropis. Tumbuhan ini banyak tumbuh di hutan, kebun,
ladang dan halaman rumah. Tumbuhan ini biasa dianggap rumput liar, padahal tumbuhan meniran dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional, seperti: Batuk, ayan, sakit kuning, malaria, demam, haid berlebihan, disentri, luka bakar, luka koreng, jerawat.”*

Tak terasa butiran bening menjadikan aliran sungai kecil di pipi. Dengan perasaan bahagia, aku berlari pulang. Ingin rasanya cepat-cepat sampai rumah dan berhambur memeluk ibu dan abang.

“Assalamu’alaikum. Ibu, Abang aku pu-,” Kata-kataku terhenti begitu melihat Pak RT dan tiga orang lainnya sedang berbincang tentang penjualan tanah.

“Tunggu!” Semua orang menolehku.
“Tanah itu tak jadi dijual!” 

“Ratih!” tegur Bang Maman, ia pun menghampiriku yang masih di ambang pintu.

“Ibu harus segera dirawat, Ra. Kita butuh biaya yang tak sedikit!” lanjutnya

“Aku sudah menemukan obat yang tepat untuk Ibu.” Kusodorkan artikel yang baru kubaca.
Ia hanya mengernyitkan kening, dihelanya napas panjang.

“Kamu yakin Ibu akan sembuh setelah meminum ini, Ra?” Kuanggukkan kepala.

“Kita harus yakin, Bang! Tak salahnya kita coba, apalagi tanaman ini banyak bertebaran di pekarangan rumah.” Senyumku merekah begitu Bang Mamam menyetujui usulanku.

Setelah membatalkan penjualan tanah dengan Pak RT, aku dan abang menuju pekarangan untuk mengambil tanaman menir.

“Siapkan 3 – 7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, bunga), Madu secukupnya. Bahan dicuci bersih, kemudian ditumbuk halus dan direbus dengan 3 sendok makan air masak, hasilnya dicampur dengan 1 sendok makan madu sampai merata. Diminum sekaligus dan dilakukan 2 kali sehari.”*

Obat herbal ini kuberikan pada ibu secara rutin. Berlahan, kesehatan ibu membaik, meskipun belum pulih seutuhnya.

Terima kasih menir, karena ke‘liar’anmu ibuku sembuh dari penyakit batuk yang telah lama dideritanya.
Dan kini, hari-hari kuhabiskan untuk berkebun. Mengurus si menir, si cempluk, si mutiara, dan masih banyak lagi rumput liar yang selama ini terabaikan.

NB: Tanda * diambil dari  http://raden-abdie.blogspot.com/p/tanaman-liar-yang-bermanfaat.html

Jakarta, 29-12-2014

Jumat, 19 Desember 2014

PUISI: RINAI DESEMBER




Rinai Desember
Oleh: Marsiti

Gelegar menyambar
Ketika sang mega membentang
Kilatkilat  menyilaukan netra
Seakan memburu; resah

Senja pun menghilang, rinai tak jua usai
Bulirnya mengusik ketenangan; deras
Jiwajiwa begidik;
merapal kalimat-Nya

Ah, rinai …
Hadirmu merangkai tangkai; menjulai
Menghijaukan bumi
Berkelokkelok sungai teraliri

Hai, jiwa yang tak bersyukur,
adakah cacian pantas terucap?
Sedangkan nikmat-Nya jelas
Bercucuran lewat rintikan bening

Sadarkah hai jiwajiwa lemah?
Tak ada yang abadi
Bahkan, setetes air pun mampu meluluhlantakkan segalanya
Hancur lebur, tak tersisa

Dalam buliranbuliran bening
Ia titipkan hikmah,
terbungkus malapetaka
juga rezeki-Nya

Jakarta, 20-12-2014

Selasa, 25 November 2014

FIKSIMINI

Fiksi # Tantangan terbesar #

Orang-orang berlalu lalang tiada hentinya. Aku pun jengkel.

“Kalau begini, lebih baik aku berhenti saja. Capek!” keluhku pada Anto. Kerja menjadi OB ternyata sangat melelahkan.

“Mana ada kerja yang gak capek, Don?” jawabnya sembari mengepel lantai koridor Rumah Sakit, “Tidur aja capek!” lanjutnya.


Bukannya membantu Anto, aku malah duduk. Menyesali pilihanku mau bekerja di sini.
Sedangkan kawanku terus saja mengepel, sesekali terdengar ia bersenandung, tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya.

“Ayolah, Kawan. Jangan suka mengeluh. Apalagi bermalas-malasan. Kita syukuri saja apa yang ada.”

Huf. Dengan ogah-ogahan aku menghampirinya, lalu membantu Anto mengepel.


“Kamu tahu gak? Tantangan terbesar bukan saat kita menghadapi kesulitan tapi saat kita melawan kemalasan dan keluhan diri kita sendiri,” bisiknya.
--------------------
SEDERHANA. Ya benar kisah di atas sangat sederhana. Adegannya sederhana. Latarnya sederhana. Namun seringkali yang sederhana itu tidak sederhana. Begitulah kisah di atas. Menceritakan seorang Doni, yang kerja menjadi OB, dan merasa itu bukan tempatnya. Dan banyak nian orang yang merasakan demikian, yaitu saat merasa apa yang sekarang ditempatinya bukanlah tempatnya. Banyak orang mengeluhkan tempatnya bekerja, dan merasa seharusnya dia bukan kerja di sana. Namun Anto temannya memberi nasihat hebat. Kisah ini cukup berkesan, buat siapa saja, yang merasakan jenuh, lelah dan bosan dalam kerjanya, untuk selalu memandang, bahwa semua itu “Tantangan Terbesar”. Sip, sangat cocok dengan event ini: "Motivasi". Karenanya, fiksi ini saya vonis sebagai juara pertama. (Kang Dana Penjual Buku)

FIKSIMINI

Fiksi # Penengadah tangan Vs Pak Tua #

Kupandangi punggung Pak Tua yang semakin membungkuk. Ia terus berjalan memikul dagangannya yang belum laku-laku.
Matahari semakin beranjak naik, Pak Tua pun berteduh di bawah pohon.

“Pisangnya berapaan, Kek?” tanya perempuan separuh baya.

“Murah kok, Neng. Satu sisir 4000,00,” jawab Pak Tua sembari memberikan senyum tulusnya.

“Kalau begitu saya beli tiga sisir.”

Bergegas, Pak Tua memasukkan pisang ke dalam kantong plastik.

Perempuan separuh baysa yang sehari-harinya menengadahkan tangan itu pun menghampiri para pemulung, lalu membagi-bagikan pisang yang baru dibelinya.