Jumat, 19 September 2014

CERPEN: BERTEMA KISAH REMAJA POPULER DAN KEHIDUPANNYA



 KEBEBASAN DIRI






“Tidak ada yang namanya kebebasan, kecuali di surga kelak.”

Kata-kata itu masih terngiang di telinganya. Terdengar pelan, namun jelas.
Benarkah?

Sebenarnya kata siapa? Mungkin dari radio milik Bapak yang tak sengaja ia dengar.
Panji masih termenung. Sesekali wajahnya merah padam. Dan untuk kesekian kali, ia mengepulkan asap dari mulut, lalu membuang benda yang telah membuatnya kecanduan itu ke pelataran rumah.
Tatapan mata tak fokus, gerak tubuhnya mengisyaratkan kegelisahan. Malam semakin larut, namun tak ada tanda-tanda ia beranjak dari tempat favoritnya. Tetap asyik menikmati nyanyian jangkrik dan segelas kopi hitam di beranda.



Angannya melambung, membuat Panji berpikir tentang kebebasan yang ia rasakan.
Lagi-lagi, benarkah?

***
“Bu, Panji sekolah dulu,” pamitnya pada wanita separuh baya, ia mencium tangan, lalu lekas pergi.

“Tunggu, Nak!” Ia menghentikan langkahnya.
“Tumben gak minta uang jajan,” ucap wanita itu dengan lembut.

“Yang kemarin masih ada, Bu,” jawab remaja yang berseragam putih abu-abu.
Langkahnya sedikit ragu, terasa berat. Seperti ada pergulatan batin.
Namun di sisi lain, ia bahagia.

Di tengah jalan, Panji berpapasan dengan Riko, Enji, dan Alan. Kakak kelasnya.

“Ji, gimana? Nanti malam jadi pergi ke Alun-alun gak?” tanya Riko.

“Jadi, dong!” jawabnya mantap, namun di dalam lubuk hati terdalam, rasa bersalah berkecamuk, membuat Panji sedikit ragu.

Harusnya aku tak mengikuti ajakan mereka. Tapi, aku pun tak mau nanti dikata-katain kuper, batinnya bertentangan.

“Nah, gitu dong. Jadi laki-laki jangan kuper. Contohnya kita ini,” ucap Alan lalu diiyakan oleh Riko dan Enji.

“Tapi ngomong-ngomong, loe dapat duit dari mana, Ji? Bukankah Bapakloe sangat perhitungan?”
Panji diam, pertanyaan temannya tak dijawab.

“Ya sudah, kita gak perlu tahu Panji dapat uang darimana. Yang penting malam ini kita bersenang-senang, ha ha ha.” Mereka tertawa senang.
Sedangkan Panji terdiam, rasa bersalah masih terus membayanginya.

***
Dididididam dididum dagadagadaga digidum digidum

Sambil bercermin, dan menyemprotkan parfum ke bajunya, Panji bersenandung, mendendangkan lagu rap yang sedang populer di kalangan remaja.

“Bapak mana, Bu?” tanya Panji pada ibunya yang sedang menjahit baju pesanan orang.
Sedari pagi ia tak melihat Bapaknya ada di rumah.

“Bapak nglembur, mungkin nanti malam baru pulang. Memangnya kenapa? Tumben-tumbennya kamu nyariin Bapak!"

“Nggak ada apa-apa.” Ia tersenyum, lalu berlalu dari hadapan ibunya.

Yes!

Ia nekat. Tak memikirkan dampaknya. Yang terpenting malam ini ia akan bersenang-senang. Mencicipi suasana malam Minggu bersaman teman-temannya.

“Nak, kamu mau kemana? Malam-malam begini berpakaian rapi dan…,hmmm wangi lagi,” tanya ibunya penasaran. Tidak biasa-biasanya, anak bungsu yang paling dimanja, malam ini terlihat berbeda.

“Anu, Bu…,” jawabnya ragu, “Panji mau janjian sama teman-teman ke Alun-alun,” jelasnya.
“Malam-malam begini?” Ibunya mengernyitkan kening,
“pergi sama siapa? Apa sama teman barumu itu, yang suka kebut-kebutan kalau naik motor dan suka keluyuran tidak jelas, Nak?” Pertanyaan retoris ibunya membuat Panji sedikit bersalah, “sebenarnya Ibu tidak suka lho, kamu bergaul dengan mereka! Takut ketularan tidak baiknya. Kalau Bapak tahu, kamu bakalan dimarahi!” lanjut Bu Ani panjang lebar. Sejatinya ibu mana yang mau anaknya salah dalam bergaul?

“Ah, Ibu. Panji kan sudah gede dan ingin gaul kayak mereka!” jawabnya, lalu pergi tanpa pamit. Hatinya sedikit dongkol. Ia iri pada teman-teman yang selalu dibiarkan oleh orang tuanya, bebas tanpa kekangan dan tidak banyak aturan.

Ibunya hanya bisa mengelus dada, ketika si bungsu mulai berubah.

***

“Wow, ada yang beda nih, Panji terlihat lebih menarik,” celetuk Riko ketika melihat penampilannya.

“Apanya yang menarik, bro? menurutku biasa-biasa saja,” timpal Enji, si rambut kribo.

“Parfumnya, lho. Wangi….” Seketika tawa mereka menderai-derai, membuat wajah Panji memerah, baginya itu adalah celaan. Namun ia enggan untuk menegur Riko dan kawan-kawan. Menurutnya, bergaul dengan mereka adalah jalan terbaik untuk menghilangkan jenuh, ia bosan dengan peraturan bapaknya yang ketat. Tidak boleh pergi malam-malam, dan harus belajar, belajar, dan belajar.
Arrg, membosankan.

“Yuk, kita cabut.” Suara Enji menyadarkan lamunannya.

Dengan berboncengan motor, mereka pergi menuju Alun-alun yang jaraknya lima kilometer dari rumah.
Suasana malam Minggu, Alun-alun terlihat begitu ramai. Panji diajak berkumpul bersama sekelompok remaja yang sedang asyik menggerak-gerakkan badannya, mirip seperti tarian ala boy band yang sedang ngetren-ngetrennya di zaman sekarang. Dengan pakaian longgar-longgar dan memakai topi yang lidahnya terlihat lebih pendek dan melebar dari pada topi biasa, membuat mereka terlihat menarik.

“Ji, mereka keren-keren kan?” bisik Riko.
Panji mengangguk.

“Kita ngerap dulu, yuk,” ajak Alan.

Di tengah Alun-alun, Riko, Alan, dan Enji menunjukkan diri. Menyanyikan lagu rap disertai tarian yang mereka tiru dari salah satu boy band di televisi.

Sudah tinggalkan
Tinggalkan saja semua persoalan waktu kita sejenak
Tuk membebaskan pikiran
Dan biarkan..
Biarkan terbang tinggi sampai melayang jauh menembus awan..
Sementara tinggalkan semua aturan yang kadang terlalu mengikat dan tak beralasan teman
Memang, memang benar teman
Kita perlu cooling down dan melonggarkan pakaian
Reff:
Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban dihatiku
Melayang kumelayang jauh
Melayang dan melayang..
Bagaikan anak kecil yang berlari bertlanjang bebas
Keluarkan suara suara canda tawa dan senyum puas
Berteman siraman hujan di lapang yang luas
Tak gentar gelegar petir yang mengaum buas
Yang penting yang penting semua senang kawan
Sejak kehadiranmu uh uh bumi terkekeh riang
Dadaku berdentam
Dididididam dididum dagadagadaga digidum digidum
Kita saling berpandang berpegangan tangan erat
Dan biarkan tubuh tersiram hujan yang lebat
Dan pekat di bawah naungan awan nan gelap
Terkadang menyilaukan di kala kilat lewat
Apakah kita kan selalu bersama-sama, kawan?
Apakah kita kan selalu berjalan beriringan?
Masih di dalam lebatnya hujan kita berjalan
Bersamamu, kita kan tebarkan senyuman

Wow!
Panji yang belum bisa seperti mereka berdecak kagum, diam-diam ia ingin menirukan gaya teman-temannya.

***
“Panji! Bangun!” teriak Pak Ahmad membangunkan anaknya yang masih mendengkur.
Panji yang sedang asyik-asyiknya bermimpi terbangun. Ia kaget, ketika membuka mata mendapati Bapak ada di hadapannya.

“Hari libur, bukannya bangun pagi, malah enak-enakan molor!” gerutu Pak Ahmad,
“ini nih, kalau malam-malam keluyuran gak jelas. Sudah dilarang-larang, masiiih saja nekat.” Tak henti-hentinya laki-laki berbadan kurus, yang tak lain adalah bapaknya mencak-mencak.

Remaja yang usianya menginjak 16 tahun itu terbengong, karena belum sepenuhnya sadar dari tidur, begadang membuat kepalanya pening, hingga tak menyadari hari sudah siang.

“Nak, ayo bangun. Nanti Bapak marah lagi,” bujuk ibunya.

***
Ternyata kemarahan dari bapaknya tak pernah dihiraukan, masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan.
Setiap malam Panji habiskan untuk berlatih rap di Alun-alun. Musik hip hop telah melenakannya. Tak ayal, pagi-pagi bangun kesiangan dan sering terlambat sekolah.

“Ini apa, Ji?” tanya bapaknya kala ia melihat surat pemberitahuan di atas meja.

Langsung saja wajah Pak Ahmad menyeringai.
Ditariknya napas dalam-dalam. Berlahan diredamnya amarah yang hampir saja meledak. Kemarahan bukan solusi yang baik. Menghadapi anak remaja yang masih labil harus dengan pikiran yang jernih.

“Sebenarnya mau kamu apa, Ji? Keluar dari sekolah atau bagaimana?”

Panji hanya menunduk, ia memang salah. Otaknya terus berpikir, mencari jawaban yang tepat.

“Jadi selama ini berangkat sekolah hanya untuk bermain-main! Terus kamu kemanakan uang bulanan dan gedung yang diminta tempo hari?” Pertanyaan-pertanyaan terus saja keluar dari mulut Bapak. Sedangkan Panji masih saja menunduk, ia tak berani mendongakan kepala.

“Bapak gak pernah melarangmu bergaul dengan siapapun, asal tidak mengganggu belajarmu. Tapi, ini…” Helaan nafas panjang memutus kalimat laki-laki yang terlihat lelah.

“Panji hanya ingin kebebasan seperti teman-teman, Pak,” Jawabnya dengan perasaan takut.

“Nak, akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan. Tapi, kebebasan di sini bukan berarti kamu harus melakukan apa yang kamu mau, termasuk menuruti ego,” papar Pak Ahmad dengan mengutip kalimat yang pernah didengarnya di radio.

“Berarti selama ini Panji salah ya, Pak?”

--------------------------------------Selesai-------------------------------------------

“Tetaplah fokus memilih pada kebebasan yang
bersifat positif ya, kawan.”


 Jakarta, 17 September 2014

Jumat, 12 September 2014

CERMIN : TUANKU SAYANG, TUANKU MALANG



Tuanku Sayang, Tuanku Malang
Kuamati wajahmu dan beberapa wanita di sekelilingmu dalam remang-remang lampu disko. Kau terlihat bahagia, tertawa terbahak-bahak menikmati malam ini penuh kemenangan. Segelas dua gelas kau teguk minuman haram itu, hingga membuatmu hilang kesadaran.
Aku  muak melihatmu, dan jijik harus berdesak-desakan dengan sosok yang sangat asing. Tapi aku tak berdaya, hingga apa yang kau lakukan, aku pun mengikutinya.
“Malam ini kita bersenang-senang, Sayang.” Ucapmu pada wanita-wanita berbaju seksi dengan keadaan sedikit kurang waras.
“Tuan sudah gila!” Kata-kataku meluncur begitu saja.
***
 Tiga hariyang lalu, kau bentak Mila hanya karena Ia tak becus mengurus rumah tangga.
“Dasar istri tidak tahu diri. Pagi-pagi sudah keluyuran tanpa pamit pada suami!” bentakmu, sedangkan Ia tertunduk, mengalah demi bakti seorang istri dan  egomu semata.
“Maaf, Bang. Tadi Mila sudah bangunin Abang, tapi gak bangun-bangun. Sedangkan hari sudah beranjak siang.” Ia berlalu ke dapur sambil menenteng belanjaan.
Tuan sudah keterlaluan, tak lagi penyayang seperti dulu. Ingin rasanya memberontak, membela wanita yang sudah jadi bagian hidupmu semenjak enam bulan yang lalu.  Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Sosokku tak begitu berguna, lemah, tak berdaya.
Rasa benci pun kian berkecamuk dalam hati, ketika kau membawaku ke tempat yang sepertinya baru pertama kita kunjungi.
Deg!
Cahaya yang remang-remang membuatku tak berdaya, hanyut dalam hiruk-pikuk makhluk-makhluk aneh.
Tuan, sejak kapan kau kenal dengan tempat seperti ini?
“Tuan memang benar-benar sudah gila!” cerocosku.
Aku benci. Tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mila kalau saja melihat perangai Tuanku yang mulai liar ini.
“ Tuhan, Engkau ciptakan sosokku dengan segala keterbatasan. Tak berguna, hanya jadi bayang-bayang semata. Jujur ini sangat melelahkan, karena aku tak bisa mencegah perbuatan Tuanku yang kini waktunya hanya untuk berfoya-foya.”
Seketika anganku melayang jauh, terdampar pada keindahan taman.
Embun masih menyelimuti pagi, kita jogging, lalu bercengkerema di taman. Duduk menikmati orang yang berlalu lalang menghirup udara segar, merilekskan tubuhnya, jogging, dan lain-lain.
Kau tersenyum saat seorang gadis menyapa. Beberapa hari kemudian kalian berkenalan dan memadu kasih. 
Cahaya neon di  beranda rumah pun jadi saksi antara Tuan dan Mila, juga diriku dan sosok yang mengikuti kekasihmu.
Tuan, apakah kau lupa. Kerlingan mata indahnya masih membekas, saat kau rayu di malam pertama? Apakah hanya karena kesalahan kecil, hingga Tuan menyakiti hatinya? Memisahkan aku dan sosok yang ku damba?

“Sadarlah Tuan, ada si cantik Mila yang menanti kedatangnmu di malam ini. Merajut cinta  dalam kesetiannya yang kau campakkan begitu saja. Sadar Tuan, sadar…,” bisikku, berharap nuranimu bangkit dari kegilaan.
“Tuan, siapakah orang yang merawatmu di kala sakit? Membuatkan sarapan, menyambutmu pulang kerkaja dengan kecupan terhangatnya?” Tak bosan-bosannya aku menguak kembali kenanganmu bersama Mila, kembang desa yang jadi rebutan para pemuda.
“Bukankah kau sangat beruntung memilikinya, Tuan?”
Ah, aku mulai menyerah. Bisikanku tak bereaksi apa-apa. Nyatanya, kau tetap asyik berjoget.
Gedubrak!
“Tuan!” pekikku karena tubuhmu roboh dan berhasil menindihku.
Pelan-pelan kau bangkit dengan sempoyongan, meninggalkan keramaian.

Jakarta, 13 September 2014
Diikut sertakan dalam event mingguan  #CerminDuniaDekik

Kamis, 11 September 2014

FIKSIMINI HUMOR



DONGKOL

Hati Richienawati porak-poranda. Ia bingung bagaimana menatanya kembali.

“Ini gara-gara Kangmas, hiks.” Ia terisak penuh sesal.
Dipandanginya gambar seorang laki-laki berkumis tebal sedang tersenyum sumringah. Dulu, kumis tebalnya yang membuat Ia tergila-gila.

“Apakah kamu sudah tak cinta aku lagi, Mas? Dan siapa perempuan yang bernama Chieti itu?”
*
Dua hari yang lalu.
Di sudut ruang kafe berlantai 2, terlihat pemuda berpostur tinggi dengan rambutnya yang cepak sedang menanti seseorang.
Lima menit kemudian, seseorang bertubuh gempal menghampiri pemuda itu.

“Ih…, kang mas Wiro kok senyum-senyum sendiri. Hayo, lagi ngelamunin siapa?” tanya Richienawati sembari mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat.

“Chietiku sayang, donk,” jawab Wiro dengan wajah penuh bahagia. Ups, keceplosan.

“Apa? Siti?” lengkingan suara Richie menggetarkan hati Wiro,
“jadi selama ini…, brak,” tangannya menggebrak meja, hingga cemilan yang tersaji berlompatan kesana kemari.

“Bukan itu, eh…, anu. Siti itu, eh Chieti itu….” Jawab Wiro gagap, ingin hati menjelaskan yang sebenarnya, namun lidahnya kelu ketika melihat mata bulat kekasih yang hampir keluar.

Perempuan berambut kriting itu tak mau mendengarkan penjelasan kekasihnya. Ia sudah terlanjur marah, ternyata selama ini Kangmas bermain mata di belakangnya.
Richienawati berlari menuruni tangga, ia tak tak menghiraukan puluhan pasang mata yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

“Richie, Sayang. Tunggu! Kamu salah paham.” Dengan gesit, Wiro berlari mengejar perempuan yang sudah berhasil mencuri hatinya . Namun teriakan Wiro tak digubris.

“Kangmas, jahat. Hiks.” Jawab Richie dibarengi tangisnya yang kian menjadi. Terus saja Ia berlari menelusuri trotoar.

“Kangmas jahat, tega-teganya menyakiti hatiku. Cintaku dibalas dusta, apakah semenjak aku berganti profesi jadi penjual gado-gado?” isaknya.

*
Wiro kelabakan, hatinya bagai tersengat kalajengking, sakit.
Ia sangat menyesal, kenapa nama itu meluncur dari bibirnya? Seharusnya dipendam saja sampai waktunya tiba. Tahu sendiri, Richie orangnya mudah tersinggung.  Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Sampai-sampai bubur masakan emaknya gak jadi dimakan.

“Aku mau kita putus! Kenapa Kangmas Menduakan Cintaku, sedangkan menyatukan cinta kita saja belum bisa?” pesan singkat dari Richienawati membuat tubuh Wiro lemas.

“Sebelum kita putus, aku ada satu permintaan. Pertemukan aku dengan Chietimu itu!”

Tiba-tiba Wiro bangkit dari duduknya. Ia tertawa cekikikan.
Yes, yes, yes.
Dielus-elusnya kumis yang berhasil menarik hati Richinaewati.
Pasti Richie kangen sama kumis Kangmas ini, batinnya yakin.

*
Di pasar darurat, Wiro celingak-celinguk mencari sesosok bidadari tak bersayap, biarpun bersayap juga gak bakalan bisa terbang.
Matanya berbinar ketika mendapati Richie sedang mangkal diseberang jalan raya, lalu Wiro menghampirinya.

“Mana Chietimu itu!” ucap Richie dengan ketusnya.

“Ada di samping Kangmas,” jawab Wiro cengengesan.
Richie bingung dibuatnya.

“Chieti, ya kamu. Kamu ya Chieti bidadari tak bersayap penjual gado-gado paling terkenal di kampung ini, Sayang,” jelas Wiro penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat Chieti, eh Richienawati dongkol.

MEMORY



Memory

Semangatnya tak pernah luntur, hanya karna faktor usia
Dia tahu tubuhnya tak lagi sekuat dulu, ringkih
Tulang menonjol dalam balutan kulit hitam legam, tersengat matahari
Demi cita-cita mulia, lelah tak dirasa

Tersadar merasa insan tak punya
Hanya orang kecil, yang di dalam diri terpatri  keinginan kuat
Membangun istana, meski sederhana

Sebuah harapan di esok, lusa, dan masa depan
Baginya, rintangan tak jadi persoalan
Menapaki jalan terjal, naik turun bebatuan
Meski licin, tak dihiraukan

Kekuatan yang masih tersisa tak ingin disia-siakan
Kerja keras yang telah dilaluinya tak ingin ditinggalkan
Sebelum raganya tak kuat lagi memanggul beban
Sebuah batu sebesar 2 kali buah kelapa yang diambilnya dari sungai

Rutinitas itu dijalaninya selama bertahun-tahun
Hingga pundaknya membungkuk
Dan ketika raga tenar-benar tak lagi sanggup,
rasa syukur tak henti-hentinya terucap dari bibirnya
Telah terkumpul jerih payah,
Tapi, mimpi itu belum juga terealisasi
Tanah pun ia korbankan, demi impian

Ketika usianya kian menua, tenaga tak lagi ekstra
Tubuhnya pun lemah, lunglai tak berdara
Berbaring di atas dipan kusam, kesayangan
Berharap, pewaris meneruskan perjuangannya agar tak sia-sia

“Mandirikah” sifat yang tertanah dalam dirinya?


Di akhir hayat, sebelum bulan yang penuh ampunan datang beliau ingin sekali ikut berpuasa.
·         Tapi Allah berkehendak lain, beliau dipanggil oleh-NYA sebelum bulan suci itu tiba.
·         Jika mengingat masa hidupnya, saya sangat salut.
Betapa dulu, beliau begitu jauh dari-Nya, namun dimasa tua, ketika tubuhnya tak mampu memanggul beban berat, beliau benar-benar ingin mempelajari agama yang di rahmati-Nya.
Semoga amal perbuatannya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala
Aamiin.

Senin, 08 September 2014

FIKSIMINI

Kata Juri: Ini lebih ada logika ... dan walau tidak terlalu twist tetapi boleh juga ... banyak wanita yang suka kaos bola kok? ===> kelemahannya boringnya kurang nendang. Tetapi masih lumayan baik dari pada yang lain sih.

Tema: Boring akut dan solusinya
Judul: Salah Paham


Dengan wajah tersungut-sungut dan tangan berkacak pinggang, Tantri menghampiri Aldo, kakak bungsunya.
Kekesalan Tantri memuncak kala melihat Aldo memakai kaos bola kesayangannya, yang penuh dengan lumpur.

"Kak Aldo!" serunya, "itu kan kaos Tantri, sini balikin!"

"Yeee enak saja, ini punya Saya, tahu!" timpal kakaknya tidak mau kalah.

"Bukan! Itu punya Tantri," jawab Tantri tidak mau kalah.

Lalu Ia berlari mengejar Aldo.
Dengan gesitnya, dua kakak beradik berkejaran di halaman belakang.
Tiba-tiba.
Brak!
Tantri menabrak kayu penyangga tali jemuran, hingga semua baju yang baru di cucinya berjatuhan.

"Lha, itu kaos kamu. Ha..., ha...." Aldo menetertawakan sifat lupa adiknya.
Kini Tantri ikut tertawa sambil memandangi kaos bolanya yang sama persis dengan punya kak Aldo.

NB: dengan optimis, Alhamdulillah masuk 3 besar

FIKSIMINI

Judul: Janji Kita
Karya: Marsiti

“Aku tidak rela!” seru Tantri setelah membaca surat merah jambu yang tergeletak di tempat tidurnya.
Ia termenung, sesekali menggerutu tidak karuan. Lalu diobrak-abriknya kenangan yang dulu sempat Roni bubuhkan dalam hatinya.
Berharap rasa yang tinggal beberapa persen mampu mengembalikan kenangan yang pernah ada.

 

Mas Roni, aku akan datang malam ini, batinnya yakin. Senyum pun mengembang, menginsyaratkan kebahagiaan.
Terkadang batinnya bertentangan. Antara senang dan sedih, optimis atau tetap pesimis?

Namun Ia percaya, bahkan sepenuhnya yakin bahwa cinta pertama akan berakhir dengan indah.
Dengan percaya diri, wanita berparas ayu itu melangkahkan kaki ke sebuah gedung.

Suasana begitu ramai, penuh dengan tamu undangan.

“Mas Roni, aku datang!” ucapnya pada lelaki bermata sipit.
“Kamu siapa?” jawab Roni bingung.
“Aku Tantri, Mas. Cinta pertamamu. Aku datang untuk menagih janji cinta kita!"

“Aku tidak kenal kamu!” jawabnya sinis. Laki-laki yang bernama Roni itu pun berlalu.
Tantri mengejarnya hingga terjatuh. Namun laki-laki itu tak peduli, tetap berjalan didampingi seorang wanita yang memakai gaun pengantin.
Dalam kesedihannya, Ia mencoba bangkit.

“Bisa saya bantu?” Seseorang mejulurkan tangannya.
“Mas Roni!” Tantri kaget bukan kepalang, melihat sesosok laki-laki bermata sipit di depannya.

“Bukan, saya kembaran Mas Roni. Ia terkena Amnesia, hingga lupa segalanya.”



NB: Diikut sertakan dalam #Event_fiksiminiku2 yang diselenggarakan oleh mbak Tantri di KBM