Kamis, 22 Mei 2014

EVENT DI PENERBIT HARFEEY(ALHAMDULILLAH LOLOS)



Menu Akhir Bulan
Jauh dari orang tua adalah tantangan terbesarku. Seumur-umur inilah pertama kalinya berjauhan dengan orang tua dan saudara-saudaraku. Meski masih se Kabupaten, tapi tetep saja aku belum sanggup berpisah dengan mereka. Tapi , aku juga ingin menimba ilmu untuk masa depan ku , orangtuaku, saudara-saudaraku, bahkan bangsaku. Awalnya aku bingung, setelah lulus SMP mau meneruskan kemana? Kakakku pun menyarankan untuk masuk ke Pesantren. 

Tinggal di pesantren ini melatihku untuk hidup prihatin, hidup hemat dan lebih mandiri. Apalagi orang tuaku tidak selalu bisa mengirimkan uang tiap bulannya, makhlum bapak dan ibuku hanya petani biasa dengan penghasilan yang tidak menentu. Jika dihadapkan situasi seperti ini,membuatku harus berfikir lebih kreatif. Bagaimana caranya agar tetap bisa makan meski tidak punya uang?

Hari itu kiriman uang dari bapak benar-benar sudah habis, pikiranku  gusar,  tidak tenang. Makan apa besok? Syukurnya persediaan beras masih ada, cukup untuk mengganjal perut dalam beberapa hari kedepan. Tapi, tidak ada uang sepeserpun yang ku pegang untuk membeli lauk. Terus aku makan sama apa?nasi saja kurang enak khan? Mau pinjam sama teman tapi, aku santri baru disini. Belum akrab dengan santri-santri yang lebih senior dariku, apalagi aku orangnya pemalu.
***
Pagi itu suasana dapur sedang rame-ramenya. Teman-teman sedang asyik memasak lauk. Biarpun aku tidak ikut iuran uang untuk membeli sayur, tapi aku tetap membantu mereka memasak didapur. Setelah semuanya beres dan teman-temanku mulai makan dengan lauk yang baru saja dimasak, aku hanya bisa pasrah sambil memegang piring berisi nasi tanpa lauk.Akupun menuju dapur, tidak ada sisa-sisa makanan , yang ada hanyalah minyak sisa menggoreng ikan, tanpa pikir panjang akupun mengambil minyak jelantah secukupnya yang masih diwajan penggorengan. Terpaksa pagi itu aku Makan hanya berlaukkan garam dan minyak jelantah(minyak bekas untuk menggoreng). Kalian ingin tahu bagaimana rasanya?(bagiku nikmatnya luar biasa,makhlum perut ndeso apapun enak)bolehlah dicoba….ambillah nasi yang masih panas(kalau nasi dingin kurang mantap) ke piring, lalu campur dengan garam dan minyak jelantah. Makanlah selagi hangat.

Dan ternyata, makan dengan lauk ala kadarnya itu jadi alternatife untuk hari-hari berikutnya jika uang kiriman dari bapak sudah habis.  Meski demikian, aku tidak pernah mengeluh. Aku jalani hari-hariku di pesantren dengan sungguh-sungguh,entah dalam hal mengaji,kegiatan social,dll.Karena kakakku selalu menasihatiku agar melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh,jangan setengah-setengah. Ibukupun selalu menanamkan sifat sabar , mungkin kalau bukan karna ibu, aku sudah pulang ke rumah, karena tidak tahan dengan hari-hari yang aku jalani di pesantren. Kurang lebih Dua tahun aku menjalani hari-hariku dengan keprihatinan. Tapi Allah tidak pernah tidur, lambat laun orang tuaku jadi sering mengirimkan uang. Otomatis aku tidak perlu makan nasi dengan lauk minyak jelantah dan garam lagi.

“sesusah apapun orang itu, jika bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu , pasti akan selalu ada jalan kemudahan untuk menghadapinya.”.Mungkin itu motivasi yang tepat untuk kondisiku.
Bukan itu saja , dengan melihat kesungguhanku dalam menuntut ilmu di pesantren , Ibu Nyai pun menggratiskan biaya bulanan dan makan untukku.  Alhamdulillah hirobbil’alamiin. Ditambah lagi,sekarang aku ikut Ibu Nyai di ndalem(sebutan untuk kediaman bu Nyai)bertugas  memasak untuk makan para santri-santri dan keluarga bu Nyai. Subhanallah, betapa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jadi,jangan pernah menyerah dengan kondisi apapun ya sobat.

EVENT KEPENULISAN



Rindu Untukmu
Kepada senja aku bertanya
Kemanakah gerangan kakinya berpijak?
Kemanakah gerangan kabar dirinya sekarang?
Kepada padi menguning aku bertanya
Ingatkah akan bocah-bocah berlarian,mengitari sawah dikala senja?
Ingatkah akan nyanyian-nyanyiannya,juga canda tawanya dalam kebersamaan yang ada?
Kepada rumput aku bertanya
Dulu,bocah-bocah kecil itu duduk berdampingan,bercengkerema dalam keriaan
Masih membekaskah dalam ingatanmu,rumput yang subur?
Kupandangi lagi hamparan sawah dengan padi kuningnya
Kuamati berkali-kali,kucari sosok demi sosok yang kurindukan
Nihil…satupun tak ada
Lalu,kepada burung aku berkata…
“bisikanlah kata rindu dari sahabat”
Burung itupun terbang tinggi dengan kepakan sayapnya yang indah
Berharap,bisikan kata rindu dari sahabat tersampaikan
Berharap, kenangan masa lalu dapat terulang
Tapi,senja tak lagi sama,jalan kita telah  berbeda,langkah ini…
Langkah yang tak lagi searah,beda haluan,beda tujuan
Segenggam harapan pengobat jiwa,kala rindu berbalut asa
Menyemangatiku tuk terus menunggu,kembalinya,keberadaannya
Meski takkan lagi bersama senja, bersenandung irama kicauan burung pipit
Meski takkan lagi bersama senja, menapaki langkah di pematang sawah
Tetap akan ku jaga,ku bingkai dalam kekhusyukan sujud PadaNya
PadaNya Sang Pemilik Jiwa,Pemilik Hati,Pemilik Rindu yang sempurna

KBMA SEASON 2



 Lemah itu Kuat

Ketika raga tak mampu untuk bangkit dari keterpurukan yang melemahkan sendi-sendi, setidaknya masih ada sedikit harapan akan cahaya KasihNya yang mampu menyusup  ke rongga kehidupan.
Ia berdiri, lekas pergi dari kerumunan orang yang tak memperdulikan dirinya. Masa bodoh dengan teriakan-teriakan sebagian orang tentang status dirinya, masa bodoh dengan cercaan yang menusuk-nusuk  hingga ke relung hati, baginya itu tak seberapa dibanding luka yang ada. Kehilangan mas No juga calon buah hatinya adalah ujian terberat. Berat rasanya , mereka adalah titipan yang sangat berharga, mereka adalah anugerah yang Allah berikan tapi , disisih lain ia  harus ikhlas ketika titipan itu  diambil oleh Sang Pemilik yang sebenarnya.


Langkahnya tak tentu arah. Menapaki terjalnya hidup yang harus ditempuh untuk menyongsong hidup baru. Entah, kemana arahnya akan dituju. Kini, ia hanya seorang diri. Hidup sebatang kara di kota yang tak ada matinya.
Hidup dikota metropolitan memang keras, sekeras hatinya kah ketika tak mau pulang kampung dan tinggal bersama keluarganya? dengan alasan belum bisa melupakan kenangan bersama mas No. Hilir mudik kendaraan yang berlalu lalang tak membuatnya berhenti dan terus menjajakan dagangannya dengan sepeda onthelnya. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia bergegas mengayunnya  mencari tempat untuk ia  tinggali sementara.Meski lelah, ia harus kuat.


“Rabbi,begitu berat cobaan ini. Hamba percaya sepenuhnya atas semua takdir yang Engkau berikan. Kuatkanlah hamba , bimbinglah untuk tetap sabar menghadapi hidup ini,” doanya dengan air mata yang bercucuran. Sejatinya, ia adalah wanita lemah. Masih butuh bimbingan , juga kasih sayang yang mampu menguatkan dari suaminya juga orang –orang yang dicintainya.
Tapi, takdir berkata lain. Ternyata hidup tak semulus rencana, manusia tak bisa memprediksi tentang masa depan, karna masa depan adalah rahasia Sang Ilahi, penuh misteri.
***

“Jadilah wanita yang tangguh de.” Kata –kata itu terus terngiang-ngiang kala kesedihan melanda hatinya. Kata-kata yang mampu menenangkannya, dan membangkitkan semangat untuk tetap bertahan hidup.
Mas No, laki-laki yang  menikahinya setahun yang lalu kini telah pergi untuk selama-lamanya. Kecelakaan sebulan yang lalu masih membekas jelas diingatannya.


Ketika fajar belum menampakkan wajahnya, ia dibonceng Mas No dengan sepeda tuanya. Mas No mengayunkan sepedanya dengan santai agar bisa menikmati udara pagi yang menyejukkan sendi-sendi.
“De, kakang jadi ingat masa-masa sekolah dulu, waktu pertama kali kita berkenalan. Ade malu-malu, saking malunya sampai menutupi wajah dengan tangan, ia kan.” Ia pun tersipu malu, dan mencubit lengan suaminya dengan penuh kasih sayang. Saat mereka sedang asyik-asyiknya bercanda tiba-tiba dari sisi berlawanan mobil sedan melaju dengan cepatnya,hingga….jedug!!! Kecelakaan tak bisa dihindari. Mereka terpental ke jalanan beraspal. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri, saat bangun ia tak mendapati suaminya yang tadi bersamanya.

“A… a ku dimana,” tanyanya dengan nada terputus-putus kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Seorang dokter pun menjelaskan kronoligi yang sebenarnya. Tangisnyapun pecah, hingga suasana haru menyelimuti ruangan itu. Suster yang merasa kasihan berusaha menenangkan, agar kuat, meski sebenarnya itu sangat berat.
Nyawa mas No tak tertolong lagi, benturan yang mengenai kepalanya membuatnya kehabisan darah. Tangisnya kian pecah kala mengetahui janin yang dikandungnya sudah tak ada lagi, calon bayinya yang sudah menginjak empat bulan.Ya, janin itu, janin yang sudah bernyawa. Karna diusia Empat bulanlah Allah meniupkan ruh kedalam janinnya.


Kalau saja bukan karna JanjiNya , mungkin ia tak akan kuat menghadapi ujian dariNya.
“Demi Dzat dan jiwaku berada ditangannya. Sesungguhnya janin yang berguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan bersama ari-arinya. Apabila ibunya mengharap pahala dari Allah dengan musibah tersebut.” (Hr.Ibnu Majah no.1690)
 Butuh waktu untuk bisa menerima semua itu, semua cobaan yang awalnya sungguh berat. Bahkan, sedih masih membekas direlung jiwanya. Kenangan indah bersama mas No terekam jelas dalam memorinya, bayangannyapun nampak dipelupuk mata.
Tapi, bukankah hidup itu setengahnya bersyukur dan selebihnya adalah bersabar? Bersabar dengan semua cobaan yang ada di dalamnya.
***


Ia memang lemah, tapi lemahnya menjadikan ia bangkit untuk menjadi kuat.
Ia memang lemah, tapi lemahnya menjadikan ia tetap kokoh pada pendirian. Ya, pendiriannya untuk tak meminta-minta belas kasihan orang-orang meski hidupnya luntang lantung tak jelas kemana arah tujuannya.
Ia memang rapuh, tapi rapuhnya melatihnya untuk tahan banting.
Ia yang lemah. Kini menjadikannya wanita tangguh, tangguh untuk tak lagi menangisi takdirnya yang jauh dari apa yang diimpikannya.
SEKIAN

*Meski nilainya masih rendah tapi tetap semangat untuk berlatih lebih baik lagi.
Penilaian :
Ide:C(2)
Judul:C(2)
Opening:C(2)
Konflik:C(2)
Dialog:C(2)
Narasi dan Deskripsi:B(5)
Kesan setelah dibaca:C(5)
Ending:B(5)
Tekhnik kepenulisan:A(10)
Kesesuaian Tema:A(20)

Nasihat Ayah Ibu



Nasihat Ayah Ibu

Ibu…
Kasihmu tak terbatas waktu, untukku belahan jiwamu
 Kau alirkan  harapan-harapan dalam doa
Memupuk indahnya cinta di setiap sujud akhirNya

Ibu…
Engkau sematkan kalimat-kalimat indah pencerah jiwaku, penyemangat hidupku
Balutan doa pun mengiringi setiap langkahku, langkah yang baru, langkah untuk menapaki terjalnya jalan kehidupan yang penuh onak duri
Tak lupa jua kau hamburkan mutiara-mutiara bening tuk mengiringi langkahku
Berharap, sekembalinya nanti tetap seperti sedia kala, tetap baik-baik saja
Terkadang, kekhawatiran menimbulkan ketidak nyamanan dalam hatimu saat kuterluka
Engkau memang perasa, merasakan apa yang kurasa walau jarak memisahkan kita

Ibu…
Kau mengajariku tentang arti syukur, mensyukuri hidup ini
Kaupun mengajariku tentang arti sabar, bahkan tak bosan-bosannya kau selalu sematkan kalimat-kalimat indah bertajuk kesabaran
Ketegaranmu akan hidup ini, menginspirasiku agar tak mudah menyerah
Menyerah pada cobaan-cobaan, menyerah pada kerasnya hidup di Metropolitan

Ibu…
Meski tak pernah terucap kata cinta dari bibirmu
Tapi, semua yang  kau tunjukkan padaku, itu cukup, sangaaaat cukup untuk mewakili akan kasihmu, cinta tulusmu, juga pengorbananmu
Kasihmu memang tak terbatas waktu
Hanya doa, ya…hanya dengan doa, melakukan yang terbaik, juga menjalankan nasihatmu adalah caraku untuk menghormatimu
Tak mampu ku membalas budi baikmu, tak mampu jua ku membalas cinta tulusmu
Tapi, dengan rasa hormatku, semoga senyum merekah tetap menghiasi bibir manismu

Ayah…
Engkau adalah pahlawan bagi kami
Setiap peluh keringatmu selalu menyadarkanku
Sadar akan hidup yang penuh dengan perjuangan
Berjuang melawan kemalasan, hawa nafsu, juga keegoan
Tak pernah ku dengar keluhmu, meski lelah tersirat dari wajahmu
Tak pernah ku dengar kata menyerah, meski berat tugas yang engkau jalani

Ayah…
Engkau yang dulunya berpostur tegap, kini menyusut seiring dengan bertambahnya usia
Begitu beratkah beban yang harus dipikul?
Hingga ayah terlihat ringkih, kulitnyapun coklat kehitaman karna setiap harinya bergelut dengan panasnya mentari
Sungguh, kerja keras ayah tak perah aku lupakan
Kerja keras untuk menyekolahkanku, juga memberikan pendidikan yang layak untuk anakmu

Ayah…
Engkau mengajarkanku untuk kuat,
Dalam dekapan kasih sayangmu tersimpan sejuta harapan, juga impian untuk anakmu, belahan jiwamu
Kau ajariku tentang kesopanan, sopan pada orang yang lebih tua
Kaupun mengajariku tentang bagaimana menjaga nama baik keluarga

Ayah…
Maafkan segala kenakalanku dulu, walau demikian kasih sayangmu tak pernah terkikis

Ayah…
JanjiNya akan  sosok seorang ayah yang selalu sabar dalam mendidik, merawat, menjaga dan mengasihi anak perempuannya sepenuh hati akan ada pahala indah untukmu ayah