Senin, 23 Juni 2014

EVENT KANG ABU




Rinduku pada Bunda

Mbeee…, mbeee

“Ayo Mbing kita pulang, sebentar lagi aku mau ngebantuin Nenek masak,” ajakku pada kambing betina, sedangkan sang Bandot sudah lari duluan. Kugiring Kambing nenek yang berjumlah empat ekor, yang dua masih kecil-kecil. Menggembala kambing adalah pekerjaanku setelah pulang sekolah. Meski terkadang capek karena harus mengendalikan Kambing supaya tidak memakan tanaman orang, tapi aku senang menjalaninya. Kata nenek aku harus mandiri dan berbakti pada orang tua.

“Nek, Bunda kapan nyampainya?" tanya ku pada nenek yang sedang memasak untuk berbuka puasa.
 
"Mungkin sebentarn lagi, Cu," jawab nenek Ranti sembari meniup-niup bara di dalam tungku supaya apinya  menyala.

Uhuk! Uhuk!
 Asap api membuat nenek terbatuk-batuk. Aku pun menawarinya bantuan.
Sebenarnya aku kasihan sama nenek, sedari kecil neneklah yang merawatku hingga sekarang ini. Sedangkan bunda bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami.
“Kalau Bunda tidak bekerja, nanti siapa yang mencari uang untuk membayar sekolah Febri?” Begitulah jawabannya setiap kutanyakan alasan bunda bekerja.
Benar juga sih, tapi waktuku bersama bunda jadi sedikit.

"Tapi Febri ingin cepat-cepat ketemu Bunda, Nek. Aku kangen."

“Yang sabar ya, Cu.” Nenek pun memelukku. Ini adalah kebiasaan nenek, jika aku rindu bunda, senjata paling ampuh supaya aku tidak larut-larut dalam kesedihan adalah dipeluk nenek. Rasanya sedikit lebih tenang. Setahun sekali bunda baru bisa pulang ke kampung halaman, begitu sibukkan di sana?
 ***
Semenjak orang tuaku berpisah, Bunda lebih memilih bekerja untuk mencari nafkah. Sedangkan ayah jarang sekali menjengukku, kadang-kadang saja datang ke rumah, sembari membawakan kebutuhanku meski tak seberapa.
Sebenarnya, aku pun ingin sekali merasakan punya orang tua yang utuh. Tapi keberadaan ayah pun tak begitu berpengaruh, mungkin karena sejak kecil aku tak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang ayah.
Banyak yang bilang, ayah meninggalkan bunda karena sudah tidak cinta lagi. Ada juga yang berpendapat kalau ayahku menikah lagi dengan perempuan lain. Ah , entahlah. Apapun yang orang lain katakan, pesan nenek biarkan saja.
 ***
"Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar !
La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar,
Allahu akbar Wa li-Llahi l-hamd !

Gema Takbir berkumandang di mana-mana, Masjid, Mushola, Radio, Televisi, dan seantero bumi Pertiwi. Bunyi petasan, kembang api pun ikut menyemarakkan malam Idul Fitri ini.
Canda, tawa, menghiasi wajah polos-polos itu. Sedangkan aku? Ah, haruskah ikut merayakan kemenangan bersama mereka? Tapi…

“Bri, ayo sini, jangan sendirian di situ, ” ajak Yanto. Aku pun bergabung bersama mereka.

“Bri, kamu kenapa? Sepertinya sedang tidak semangat,” tanya Husni.

“Aku sedih, Bunda belum juga pulang. Padahal sudah janji mau pulang sebelum Lebaran.” Tidak terasa air mataku mengalir, aku tak mampu membendungnya.
 Aku benar-benar rindu bunda, rindu sekali. Seandainya bunda tidak merantau, dan tetap di sini, tinggal bersama aku dan nenek, mungkin sekarang aku merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.

“Sudah jangan sedih ya, Bri. Aku yakin Bunda kamu pasti pulang. Mungkin sekarang masih di perjalanan, terjebak macet.” Ismun berusaha menenangkanku.

“Lebih baik kita ikut Takbir keliling aja, pasti ramai,” usul Juni. Aku menganggukkan kepala tanda setuju.

Kami pun menuju mushola Darussalam. Ternyata yang ikut banyak sekali, kami langsung menyesuaikan barisan. Berkeliling kampung dengan membawa obor yang terbuat dari bambu. 

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar !
La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar,
Allahu akbar Wa li-Llahi l-hamd !

Aku terbawa suasana, kesedihan yang sempat aku rasakan sirna, tergantikan canda-tawa, riang-gembira.
***
Tok...tok...tok...
"Assalamu'alaikum." Suara salam membuyarkan lamunanku yang masih terjaga meski jam dinding menunjukkan angka sebelas.

"Wa'alaikum salam," jawab nenek, sembari membukakan pintu. Aku pun keluar ingin melihat siapa yang datang.
"Bunda....," seruku seranya memeluk bunda.

"Aku rindu ,Bun." Tidak terasa air mataku mengalir

 “Iya Sayang, Bunda juga rindu sekali. Sudah jangan nangis, anak laki-laki harus kuat, tegar, tidak boleh cengeng.”
“Duh, anak Bunda sudah gede ya, sudah kelas lima. Bunda sampai pangling.”

“Makannya Bunda di rumah saja, biar tahu perkembangannya Febri,” celetukku.
Pelukan bunda malah semakin kencang, ada aliran basah yang menetes ke punggungku.
***
Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar !
La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar,
Allahu akbar Wa li-Llahi l-hamd !
Para penduduk berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan shalat Idul Fitri. Begitu juga dengan kami. Aku bergabung dengan teman-temanku.
“Duh senangnya, yang Bundanya baru pulang dari Jakarta,” ledek Yanto.
***
Rinduku pada bunda terobati sudah. Setelah lebaran usai, bunda akan meninggalkan kampung halaman lagi. Ah...seandainya bunda tahu, bahwa aku setiap saat selalau merindukannya. Tapi, bukankah  bunda bekerja juga demi masa depanku?



TANTANGAN KBMA LEVEL 2

Nyawa yang Sama
Detik-detik terasa lambat berjalan. Helaan nafas ini begitu tak beraturan, menambah kegundahan rasa. Cemas, kalut, dan perasaan lainnya mendera. Aku seperti orang kebingungan, mondar-mandir di ruang penunggu sembari memanjatkan doa demi kelancaran persalinan istriku . Lamat-lamat kudengar suara erangan mengejan. Ya, Keke sedang berjuang antara hidup dan mati demi kelahiran jabang bayi, anak ketiga kami.
***
Dua tahun yang lalu.
Aku begitu terpukul ketika dokter mengatakan bayi dalam kandungan Keke yang berusia delapan bulan tak lagi bernyawa. Tidak ada keluhan apa-apa, Keke hanya curiga ketika tak ada lagi geraka aktif di dalam perut. Syok, itu yang aku rasakan, lebih-lebih Keke. Karena, ini untuk ke dua kalinya bayi kami mengalami hal yang sama.
“Mas, coba ingat-ingat, apa panjenengan pernah membunuh binatang atau melakukan hal-hal aneh ketika saya hamil?” Tanya Keke dua bulan setelah kejadian itu. Sontak aku kaget, tak mengira Ia akan menanyakan sesuatu yang menjadikanku dilema sepanjang hari. Lalu kucoba mengingat-ingat kejadian yang menurutku janggal.
Tepatnya malam itu, aku akan pulang dari menarik angkot. Kulajukan dengan kecepatan tinggi. Saat kulewati tikungan, tiba-tiba…
“Dasar kucing sialan,” teriakku ketika dikejutkan dengan munculnya kucing yang entah dari mana asalnya. Bukannya berhenti, aku malah melajukan angkot dengan kecepatan tinggi.
Meong…, meong…, meong…
Tak kupedulikan keadaan kucing itu, mau mati ke, hidup ke, toh hanya seekor binatang, pikirku kala itu.
***
“Dasar manusia kejam, tidak punya perasaan.” Suara itu menggelegar, diiringi kilatan cahaya petir. Tepat di depanku, segerombolan Kucing hitam berbulu lebat dengan pancaran matanya yang tajam akan menyerangku.
“Meong, meong, meong, karma itu akan datang, dan datang lagi,” ancamnya penuh kemarahan. Aku terperanjat dan terbangun dari mimpi.
“Kucing? Karma? Datang lagi? Apa maksudnya?” Aku belum sadar sepenuhnya tentang mimpi yang baru saja terjadi.
Namun, setelah mimpi itu hari-hariku dihinggapi rasa takut, sangat takut. Apalagi ketika bayi yang sedang dikandung istriku meninggal.
“Mungkin Allah belum menakdirkan anak kita melihat dunia ini, Ma,” hiburku untuk menguatkannya.
***
“Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius.”
“Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri. kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.” Ceramah Kyai Fahrur menyentakku.
Innalilahi wainnailaihi roji’un. Hatiku bergetar hebat, tubuhku lemah. Kusandarkan tubuh ini di dinding shaf paling belakang, menahan rasa bersalah yang mampu menohok ulu hati.
Astaghfirullahhal’adzim. Maafkan aku, Ma. Berkali-kali kuucapkan istighfar diiringi air mata yang kian bercucuran. Aku telah membunuh anakku sendiri.
“Lakukan selametan atas kematian kucing yang pernah kamu tabrak, Nak. Dan jangan lupa minta ampunlah pada Allah, InsyaAllah calon bayi kamu akan selamat.” Begitulah nasihat Pak Kyai setelah aku curhat padanya..
***
“Mueeza, makanan sudah siap.” Kucing berbulu kuning kecokelatan berlari mendekatiku, lalu makan dengan lahapnya. Meski Keke selalu protes dengan kelakuan Kucing yang selalu tidur sembarangan dan kerjaannya mengorek-orek sampah, tapi aku tetap memeliharanya.
“Ma, Kucing itu tidak najis lho, badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci. Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia. Mungkin ini pula lah mengapa Rasulullah SAW sangat menyayangi Kucing,” jelasku pada Keke.
“Kok bisa,” tanyanya penasaran.
“Karena pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.”
***
Tangis bayi yang keras menyentakku…aku sudah masuk ke tempat Keke berbaring lemah. Mukanya pucat tapi ia sudah kembali tersenyum.


Minggu, 15 Juni 2014

RINDU UNTUK AYAH







Jakarta, 15 Juni 2014

Assalamu’alaikum


            Ayah, bagaimana kabarnya hari ini? Semoga Ayah dalam keadaan sehat selalu, begitupun dengan saya. Tidak terasa satu tahun lamanya kita tak jumpa, rasa rindu ini begitu membelenggu dalam kalbu. Ingin rasanya berjumpa dengan Ayah yang ada di Kampung halaman. Jauh dari Ayah adalah sesuatu yang sangat berat, tapi bukankah dengan demikian dapat melatih diri untuk lebih mandiri? Ya, mandiri. Beratus-ratus kilo jarak yang memisahkan kita tak akan pernah menghapus wajah Ayah, apalagi kenangan yang pernah ada.

Ayah, lihatlah anakmu yang satu ini. Dulunya bandel dan suka berlaku tidak sopan. Tak terelakan lagi, Ayahpun sering marah karena tingkah lakuku tak pernah berubah.  Tapi, kemarahan Ayah adalah wajar, masih sebatas menasihati. Memberikan penjelasan bahwa itu salah. Dan, anakmu ini… Ah, sungguh, nasihat Ayah tak pernah dihiraukan.

 Masih teringat jelas, kenangan saat kecil dulu. Ketika musim hujan, Ayah membelikanku payung kecil berwarna kuning dengan gambar lucu. Betapa bahagianya saat itu. Sampai sekarangpun kenangan itu tersimpan rapi dalam memori otakku.

Ayah, maafkan Siti yang dulunya menolak ketika disuruh mencuci piring, selaluu saja mengandalkan Ayah. Begitu juga ketika Siti menyerahkan si Bungsu pada Ayah karena Siti tidak mau menjaganya. Sebagai anak perempuan paling besar seharusnya Siti lebih rajin, tapi malahan lebih banyak bermain dengan teman-teman.

Yah, jangan lupa jaga kesehatan ya? Siti tidak ingin Ayah jatuh sakit lagi. Kesehatan itu penting lho, jadi jangan ngoyo dalam bekerja. Ingat, tubuh Ayah tak lagi setegap dulu. Usia Ayahpun tak lagi muda. Penyakit mudah sekali menyerang. InsyaAllah Siti bisa meringankan beban Ayah. Di sini Siti bekerja juga untuk keluarga, untuk kepentingan bersama. Bagi Siti, keluarga adalah yang utama.

“Terimakasih banyak” Ungkapan ini special untuk Ayah. Karena Ayah sudah bekerja keras untuk menyekolahkan kami. Meski hanya sampai SMP, tapi itu sudah cukup. Beban Ayah sudah terlalu berat. Menghidupi 7 anak beserta istri adalah tanggung jawab yang tidak mudah. Tapi Ayah sanggup menjalaninya

Tidak terasa sebentar lagi puasa. Dan hari-hari yang sangat Siti nantikan adalah menjelang mudik. Tunggu kedatangan anakmu ini, Yah. Siti sudah tidak sabar lagi ingin bertemu Ayah. Memeluk dan mencium tangan Ayah. Semoga kita selalu dalam LindunganNya, hingga dipertemukan kembali saat Lebaran nanti. Aamiin. I miss Ayah.




BAHAN DASAR CERITA

Bahan Dasar Cerita
By: Opik Oman


Ketika menulis cerita, ingatlah untuk menggunakan keempat bahan dasar di bawah ini dengan cara yang tepat.

1. Narasi
Kalau kamu mendengar cerita tabrakan dari temanmu, maka itu kami sedang mendengarkan narasi.

Gunakan narasi untuk menjelaskan sesuatu yang penting tapi tidak berkenaan secara langsung dengan ceritamu. Ini agar ceritamu tidak 'ngelantur' karena narasi biasanya cukup pendek.

2. Aksi
Kalau kamu melihat sendiri adegan tabrakan itu, maka kamu sedang melihat/mendengar/merasakan/mengalami sebuah aksi.

Gunakan aksi untuk plot/alur utama ceritamu. Ini agar pembaca mendapatkan pengalaman pertama sehingga emosi yang mereka rasakan akan lebih dalam.

3. Deskripsi
Apa yang kamu lihat/dengar/rasakan selain aksi adalah deskripsi. Seperti pakaian korban, helmnya, bentuk wajahnya, tubuhnya, juga suasana jalan, rumah-rumah di sekitar, dll.

Gunakan deskripsi untuk membangun dunia cerita. Sehingga pembaca merasa tersedot ke dalamnya.

4. Dialog
Percakapan para tokoh mengenai masalah utama--bukan percakapan sehari-hari.

Gunakan dialog untuk percakapan yang penting saja--yang tidak akan cukup hanya dengan dinarasikan.

***
Sekarang coba cek cerpenmu. Apakah keempat hal di atas sudah kamu gunakan sebagaimana mestinya? Atau sebaliknya, tidak sesuai dengan fungsinya?

MENJELMA BIDADARI

Bidadari dalam Fiksi

Izinkan langkah ini untuk mengarungi luasnya samudera. Izinkanlah bahwa langkah kecil ini mampu menakhlukkan waktu yang cepat berlalu. Sekiranya, selama raga ini masih bertahan dengan segala keterbatasan yang ada, pasti takkan sia-sia.

Baru saja menelan pil kehidupan yang begitu pahit, sepahit akar bratawali. Tapi tak ada rasa menyerah, sedikitpun tidak. Selalu saja ada yang menguatkan, memberikan hangatnya kasih sayang, manisnya cinta yang mampu membangkitkannya untuk terus bertahan.

***
Jarum jam yang terus bergerak sebagai penanda waktu tak mungkin bisa dicegah. Semakin bergerak, detak jantungnya semakin tidak beraturan. Keringat dingin bercucuran.

“Mas, aku takut,” ucapnya cemas.

“Tenang Sayang, Mas akan tetap menemanimu di sini.” Ramdan berusaha menenangkan istrinya yang sedang berbaring lemah, disekanya peluh keringat di wajah. Dipandangi tubuh Imas, kurus, dengan tulang pipi yang sangat kelihatan. Di bagian kepala, tak ada lagi mahkota indah yang selama ini Ia kagumi.

“Bagaimanapun keadaanmu, aku akan selalu ada untukmu, Sayang,”batinnya seraya menahan butiran bening yang hampir ke luar dari tempat peraduannya.

Tiba-tiba kenangan masa lalu menari-nari di kepalanya. Slide-slide yang ada di otak pun bermunculan. Bagaimana awal pertemuannya dengan Imas, gadis cantik nan jelita, dengan lesung pipinya yang mampu membuat siapa saja jatuh cinta, hingga mengetahui hasil lab menunjukkan bahwa di bagian tubuh Imas bersarang penyakit yang mematikan, penyakit yang sangat ditakuti oleh kaum wanita.

***

Tepatnya satu tahun yang lalu, setelah beberapa bulan berkenalan, Ramdan memutuskan untuk meminangnya. Bukan karena kecantikannya saja, tapi ketegaran dalam menjalani hiduplah yang mampu mengetuk hati Ramdan setelah tiga tahun yang lalu ditinggal pergi oleh orang yang dicintainya untuk selama-lamanya.

Tok..tok..tok!
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Ramdan yang belum sempat memutar ulang slide, tentang bagaimana mereka hingga berada di Rumah sakit ini.

“Permisi Mbak Imas, Mas Ramdan,” sapa suster Dina dengan senyumnya yang ramah.

“Bagaimana keadaan hari ini, Mbak? Sudah siapkah?” sambungnya.

“Alhamdulillah Sus, sudah mendingan. Tapi…” Kata-katanya terhenti. Di tariknya napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara berlahan.

“Mbak Imas tidak usah takut, kan ini yang terakhir kali.”Sepertinya suster tahu apa yang terbesit dalam pikirkannya.

“Bisa dimulai sekarang, Mbak?” Suster Dian kembali bertanya.

Imas pun mengiyakan. Pasrah, meski ketakutan merajai diri, tapi genggaman tangan Ramdan mampu menenangkannya.

“Bismillahi rohmaanirrohiim.” Mereka mengucapkan Basmallah berbarengan.

Suster mulai menekan obat di suntikan tanpa jarum yang sudah di tempel di selang infus, lalu menekannya sangat pelan.
Imas merasakan kesakitan, dahinya sesekali mengernyit, menahan sakit akibat cairan obat yang mengalir ke urat nadinya.
Ramdan yang sedari tadi menggenggam tangan istrinya mulai panik, raut wajahnya berubah serius.

“Bagaimana Sayang, sudah berasa sakitnya?”

“Iya, sudah mulai sakit dan dingin.” Suaranya melemah, badannya seketika menggigil, wajahnya pucat dan mulutnya bergetar.
Dengan sigap, Ramdan menutupi tubuh istrinya dengan selimut tebal. Ia duduk di sampingnya. Melihat Imas tak berdaya, Ramdan hanya mampu berdoa. Menguatkannya dengan belaian kasih sayang.

***

Imas menemukan benjolan ketika melakukan 'Sadari' di bagian kiri. Awalnya dianggap biasa, bahkan dibiarkan begitu saja sampai satu tahun lamanya. Tapi, lama-lama sakitnya bertambah parah. Terjadi pembengkakan, dan sesekali mengeluarkan cairan.

Syok, stres, bercampur jadi satu. Imas berubah menjadi pribadi yang pendiam. Murung, dan suka menyendiri di kamar setelah mengetahui hasil lab menunjukkan bahwa Ia terserang kanker payudara. Dan yang membuatnya semakin putus asa dalam menjalani hidup adalah kanker itu sudah memasuki stadium 3C, stadium yang cukup tinggi.

“ Sayang, walaupun nanti kamu akan di operasi dan di angkat payudara kirinya, di mataku kamu tetaplah cantik. Yang terpenting kesembuhanmu, Sayang.” Ramdan mencoba menghiburnya. Perhatian, kasih sayang selalu tercurahkan. Karena hanya dengan support dari orang-orang yang di cintainyalah, diharapkan bisa membangun semangat Imas untuk sembuh.

“Tapi aku takut Mas, kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain saja yang terkena penyakit ini? Kenapa bukan penyakit kecil yang bersarang di tubuh ini, kenapa?” Tangisnya pecah, bukan, bukan Ia tak ikhlas atas takdir yang Allah berikan. Ia hanya ingin mengeluarkan unek-unek tak sehat agar bisa keluar seiring dengan penyesalan atas apa yang baru saja diucapkannya.

Selama operasi dilakukan, waktu terasa menggeliat. Detik demi detik mengguncang jantung. Raut muka ketegangan terpancar di wajahnya. Tak bisa diuraikan dengan kata-kata, sekedar membayangkannya pun tak mampu.
Dengan Mastektomi membuatnya lebih baik. Tapi, bukankah proses selanjutnya adalah kemoterapi?

“Mas, aku gak mau, pokoknya aku gak mau di kemo!” serunya, yang terdengar bukan seperti menyeru, tapi bagai rintihan menyayat hati.
Ya, penolakan Imas memang masuk akal, Ia masih trauma. Apalagi setelah mendengar sendiri apa itu kemoterapi.

“Kemoterapi? Apa itu dokter?” Tanya Ramdan penasaran.

“Kemoterapi adalah salah satu jenis pengobatan penyakit kanker yang berfungsi menghancurkan dan membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi akan memperlambat pertumbuhan sel atau menghentikan pertumbuhannya secara total. Tapi…” Tiba-tiba berhenti, seolah berat untuk menjelaskan.

“Tapi apa dokter?

“Sebenarnya kemoterapi itu efektif, tapi juga akan berakibat pada sel-sel lain yang membelah dengan cepat, seperti sel-sel pada mulut, kulit kepala(akar rambut), dan usus. Efek tersebut menghasilkan gejala-gejala seperti sariawan, rambut rontok, dan muntah-muntah,” jelas dokter Ananto panjang lebar.

“Jadi maksud dokter, istri saya bisa sembuh dengan melakukan kemoterapi?"

“Sulit untuk mengatakan demikian, kemoterapi hanya salah satu cara untuk menyembuhkan. Selebihnya, serahkan semuanya kepada Allah, Sang Maha Penyembuh. Berdoalah, memohon untuk kesembuhan istri Anda, dan juga berusahalah dengan melakukan kemoterapi ini”.

***

Ramdan tak patah arang. Bujukan, rayuan juga sifat optimis diberikannya dengan kesabaran. Dukungan dari teman-teman juga keluarga besarnya pun mengalir deras. Hingga Imas bersedia di kemoterapi.

Sekedar hiburan, Ia pun berselancar di dunia maya. Mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang kangker payudara.
Tiba-tiba matanya tertuju pada salah satu fiksi dengan judul “Hanya Satu di Dadaku” karya Dimar Hanafiah. Awalnya, Ia kira isinya tentang kesetiaan cinta, cukup hanya ada satu cinta di dada. Ternyata salah, judulnya mampu mengecoh para pembaca.

Tokoh ibu Rita dalam cerita tersebut sungguh menyadarkannya. Ibu Rita adalah pasien yang terkena kanker payudara, bukan lagi yang kiri atau yang kanan, melainkan dua-duanya dan sudah berhasil dioperasi. Bukan itu saja, ibu Rita juga terkena tumor otak. Kepalanya harus dilepas dengan cara digergaji, diambil tumornya lalu di pasang kembali. Dan untuk tetap kuat merekat harus dibantu dengan jejeran besi atau staples di kepala.

Merinding, itu yang dirasakan Imas ketika membaca kisah Ibu Rita.

“Kamu jangan mau kalah dengan penyakit yang ada di diri kamu. Ini tubuh kamu. Kamu yang memiliki, kamu juga yang menentukan maunya kamu bagaimana. Tidak ada siapa pun dan apa pun kecuali Tuhan yang berhak atas tubuh kamu sendiri. Kamu terus yakinkan diri kamu agar tubuh kamu ini bisa menjadi sembuh dan hilang semua segala penyakit yang ada di dalamnya. Perintahkan tubuh kamu dengan segala keyakinan yang kamu punya dan dukungan dari orang-orang yang sayang sama kamu, agar bisa kembali pulih sehat seperti semula.” (1)

“ Kamu jangan kekurangan percaya diri setelah operasi. Kita di latih jadi sangat kuat dan hebat untuk menghadapi ini. Perempuan kalau tidak di uji, segala kehebatan besar yang ada di dirinya tidak akan keluar. Tapi kalau sudah di uji, perempuan bisa lebih hebat dari pria dan semua makhluk hidup apa pun yang ada di muka bumi ini. Itu pun kalau perempuan nya mau dan bisa menghadapi yang sedang di alaminya.”(2)

Tertegun. Ia mendapat semangat juga masukan baru yang sangat berharga.
“Rabbi, inikah cara Engkau mengirimkan seorang dengan membawa pesan untukku?”

Ibu Rita adalah sosok bidadari meski hanya seorang tokoh dalam cerita fiksi.
Ia mampu memotivasi para penderita kanker payudara untuk menjelma menjadi bidadari.
***

Sebenarnya, pil kehidupan yang pahit itu adalah obat untuk memperbaiki hidupnya yang jauh dari rasa syukur. Ya, betapa dulunya Ia tak begitu mementingkan kesehatan. Pola makan yang tidak sehat. Gorengan adalah makanan favoritnya, terlebih Ia gemar mengkonsumsi kentang goreng dan fast food.
Dan kini, Ia bisa mengambil pelajaran dari cobaan yang sempat membuatnya hampir terpuruk. Sebenarnya, dengan diberikannya penyakit yang menakutkan, itu adalah proses untuk menjadikannya lebih kuat.

Imas pun bertekad untuk sembuh. Ia ingin mengikuti jejak Ibu Rita, menjelma menjadi bidadari seperti yang ada di web www.bidadariku.com.

Catatan:
Mastektomi: Operasi pengangkatan payudara
Sadari: Periksa Payudara Sendiri
(1), (2): Dialog Ibu Rita dalam fiksi “ Hanya Satu di Dadaku” karya Dimar Hanafiah